Connect with us

Hi, what are you looking for?

alexanews.co.id

JAMBUL MERAH

‘Polemik’ Proyek Interchange Karawang Barat

Oleh : Ferry Alexi Dharmawan

Hingga hari ini Kabupaten Karawang melalui tangan pemerintah daerahnya terus berupaya mempercantik wilayah perkotaan dan pedesaan.

Jalan, jembatan, rumah tidak layak huni dan sebagainya terus ‘digenjot’ pembangunannya oleh Pemerintah Kabupaten Karawang dengan harapan masyarakat luas dapat menikmati kemajuan pembangunan, seiring dengan berkembangnya Industrial City di Kota ‘Lumbung Padi’.

Menata kota dan membangun desa, itulah sebuah kalimat yang nampaknya menjadi kewajiban utama dari pemerintah dalam melaksanakan sila kelima dari Pancasila yaitu ‘Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia’.

Berbicara menata kota, tentunya diawali dengan menata wajah dari kota itu sendiri. Pemerintah Karawang melalui Dinas PUPR memulainya dengan melakukan penataan jalan utama, yaitu jalan Interchange Karawang Barat.

Pembangunan Interchange Karawang Barat sudah berjalan satu tahun ke belakang dengan mengucurkan anggaran tidak kurang dari Rp 29 milyar. Hasilnya, Jalan Interchange yang awalnya bergelombang berkilo-kilo meter, saat ini sudah berkurang radius kerusakannya, berkat realisasi tahap awal pembangunan Jalan Interchange Karawang Barat.

Namun di balik lancarnya pembangunan yang pada tahap proses pembangunannya sudah didampingi oleh TP4D, ada informasi yang menyeruak bahwa BPK-RI menemukan dugaan downgrade spesifikasi beton yang digunakan dari K350 menjadi K175. Sehingga menyebutkan bahwa PT Manggala Jaya Utama (MJU) sebagai kontraktor harus mengembalikan kelebihan pembayaran sebesar Rp 2.199.497.307.

Advertisement. Scroll to continue reading.

Tentu saja temuan tersebut tidak dengan bulat-bulat diterima oleh PT MJU. Pada saat saya temui, PT MJU menyampaikan bahwa pihaknya dengan ijin dari Dinas PUPR setempat mengajukan Test Lab dengan lembaga penguji profesional, yaitu oleh Laboratorium Tekhnik Sipil dan Lingkungan Institut Tekhnologi Bandung sebagai pembanding Test Lab yang dilakukan oleh BPK sebelumnya.

PT MJU berupaya demikian dikarenakan mencoba mencari kebenaran, karena diakuinya bahwa pihaknya sudah memesan beton kepada Batching Plan sesuai dengan spesifikasi yang ditentukan yaitu K350.

Akhirnya, pengambilan sampel oleh Lab dari ITB pun dilakukan pada tanggal 13 Juli 2019 yang berlokasi di 14 titik yang nyaris sama dengan titik diambilnya sample oleh team dari BPK-RI di Jl. Tarumanegara (Proyek Interchange Karawang Barat).

Lalu pada tanggal 22 Juli 2019, keluarlah hasil Test Lab ITB, yang secara singkat isinya menjelaskan bahwa tidak ditemukan satupun beton yang kuat tekannya kurang dari 75%.

Dengan hasil ini, ditemukan hasil Test yang berbeda antara BPK-RI dan ITB. BPK menyebut PT MJU mendowngrade hingga K175 sementara hasil dari ITB dari 14 sample hanya ada satu titik yang terendah yaitu K325.

Lantas bagaimana selanjutnya? Pertanyaan benar atau salah tentunya menyeruak. Untuk menuntaskan hal ini menurut saya hanya ada tiga jalan.

Advertisement. Scroll to continue reading.

Pertama yaitu melakukan pengujian ulang yang dilakukan bersama sama antara BPK-RI dengan PT MJU yang tentunya menggunakan lembaga forensik yang Independen,

Kedua yaitu PT MJU mengajukan gugatan atas temuan BPK-RI ini ke pengadilan,

Atau yang ketiga, PT MJU menerima begitu saja temuan BPK-RI, lalu mengembalikan kelebihan pembayaran seperti yang disebutkan oleh BPK-RI sebagai kerugian negara. (*)

 

Advertisement. Scroll to continue reading.

Berita Yang Mungkin Anda Sukai

Berita

KARAWANG, AlexaNewsID – Proyek pengerjaan jembatan di Dusun Bayur 1, Desa Payung Sari, Kecamatan Pedes, Kabupaten Karawang, tak kunjung selesai hingga empat bulan lamanya....

Berita

Karawang, alexanews.co.id – Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Kabupaten Karawang, tengah memulai proses perbaikan jalan di beberapa titik, seperti jalan rusak serta...

Advertisement