Connect with us

Hi, what are you looking for?

alexanews.co.id

Sosial dan Budaya

Pengertian dan Bagaimana Tata Cara Itikaf di Bulan Ramadhan

Karawang, AlexaNews.co.id – Selain menjalankan ibadah puasa dan salat tarawih, ada kegiatan ibadah lain di bulan Ramadan yang mungkin jarang terlihat di bulan-bulan lain, yaitu itikaf, atau berdiam diri di dalam masjid.

Secara bahasa, itikaf berarti menetap pada sesuatu. Sedangkan secara syar’i, itikaf memiliki arti menetap di masjid dengan tata cara yang khusus disertai dengan niat. Dalam kitab lisanul arab, itikaf sendiri memiliki makna merutinkan (menjaga) sesuatu.

Itikaf biasa dilakukan saat bulan Ramadan, khususnya di sepuluh malam terakhir bulan Ramadan. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan kegiatan ibadah dan juga mendapatkan malam spesial yang hanya ada di bulan Ramadan, yaitu malam lailatul qodar.

Lalu, bagaimana tata cara itikaf di bulan Ramadan?

Tata cara itikaf bukan sekedar berdiam diri di dalam masjid. Tapi dalam tata cara itikaf kita juga harus tahu waktu lamanya itikaf, hal-hal yang dapat membatalkan itikaf, hingga adab yang harus diperhatikan saat berdiam diri di dalam masjid.

Advertisement. Scroll to continue reading.

Dikutip dari Rumaysho.com, Ibnul Mundzir mengatakan bahwa para ulama telah sepakat jika hukum dari itikaf adalah sunnah, bukan wajib. Namun, jika seseorang bernadzar untuk melaksanakan itikaf, maka hal itu menjadi wajib bagi dirinya.

Dalam tata cara itikaf, waktu itikaf yang lebih afdhol adalah di akhir bulan Ramadan, yaitu di sepuluh hari terakhir bulan Ramadan. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam hadis ‘Aisyah, ia berkata “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beritikaf pada sepuluh hari yang akhir dari Ramadhan hingga wafatnya kemudian isteri-isteri beliau pun beritikaf setelah kepergian beliau,” (HR. Bukhari dan Muslim).

Tujuan beritikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadan adalah untuk mendapatkan malam lailatul qodar. Dengan beritikaf, kita bisa menghindari segala urusan dunia dan dapat berfokus untuk beribadah, berdoa, dan berzikir.

Waktu Lamanya Itikaf

Itikaf adalah kegiatan berdiam diri di masjid. Oleh karena itu, kegiatan itikaf harus dilakukan di dalam masjid, dan boleh di masjid mana saja. Tata cara itikaf di masjid ini didasarkan pada firman Allah SWT. “(Tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri’tikaf dalam masjid.” (QS. Al Baqarah : 187).

Kemudian para ulama berselisih pendapat tentang masjid yang seperti apa yang bisa dijadikan tempat itikaf. Imam Malik mengatakan bahwa itikaf boleh dilakukan di masjid mana saja, asal di sana ditegakkan sholat lima waktu.

Advertisement. Scroll to continue reading.

Imam Asy Syafi’i pun berpendapat demikian, namun dengan menambahkan syarat, yaitu di dalam masjid tersebut juga diadakan sholat Jum’at. Hal ini bertujuan agar ketika waktu sholat Jum’at tiba, orang-orang yang beritikaf tidak perlu keluar dari masjid.

Tata cara itikaf berikutnya dilihat dari lamanya waktu beritikaf. Para ulama sendiri telah sepakat bahwa tidak ada batasan waktu maksimal untuk beritikaf. Namun, para ulama masih berselisih terkait waktu minimal seseorang bisa dikatakan itikaf.

Bagi ulama yang mensyaratkan itikaf harus disertai dengan puasa, maka waktu minimalnya adalah satu hari. Ulama lainnya berpendapat bahwa diperbolehkan kurang dari sehari, namun tetap disyaratkan puasa.

Imam Malik mensyaratkan minimal sepuluh hari. Imam Malik juga memiliki pendapat lainnya, yaitu minimal satu atau dua hari. Sedangkan bagi ulama yang tidak mensyaratkan puasa, waktu minimal seseorang dikatakan telah beritikaf adalah selama ia sudah berdiam di masjid dan tanpa dipersyaratkan harus duduk.

Menurut Shahih Fiqh Sunnah, itikaf tidak dipersyaratkan untuk puasa, dan hanya disunnahkan. Kemudian menurut mayoritas ulama, itikaf tidak memiliki batasan waktu minimal, jadi Anda diperbolehkan jika hanya sesaat di malam atau di siang hari.

Al Mardawi rahimahullah mengatakan “Waktu minimal dikatakan itikaf pada itikaf yang sunnah atau itikaf yang mutlak adalah selama disebut berdiam di masjid (walaupun hanya sesaat),”.

Advertisement. Scroll to continue reading.

Dalam tata cara itikaf, hendaknya seseorang menyibukkan diri dengan melakukan berbagai amalan seperti berdoa, berdzikir, bersholawat pada Nabi, atau membaca Al Quran. Dan dimakruhkan menyibukkan diri dengan perkataan dan perbuatan yang tidak bermanfaat. Karena pada dasarnya kita beritikaf di masjid agar bisa fokus untuk beribadah.

Dalam tata cara itikaf, ada beberapa hal yang diperbolehkan dan juga yang dapat membatalkan itikaf. Hal yang dibolehkan saat itikaf antara lain: Keluar dari masjid karena ada hajat yang mesti ditunaikan, seperti keluar untuk makan, minum, dan hajat lain yang tidak bisa dilakukan di dalam masjid.

Melakukan hal-hal mubah, seperti mengantarkan orang yang mengunjunginya sampai pintu masjid atau bercakap-cakap dengan orang lain. Istri mengunjungi suami yang beritikaf dan berdua-duaan dengannya, mandi dan berwudhu di masjid, membawa kasur untuk tidur di masjid.

Sedangkan hal yang dapat membatalkan itikaf adalah: Keluar masjid tanpa alasan syar’i dan tanpa ada kebutuhan yang mubah yang mendesak.

Jima’ (bersetubuh) dengan istri berdasarkan Surat Al Baqarah ayat 187. Ibnul Mundzir telah menukil adanya ijma’ (kesepakatan ulama) bahwa yang dimaksud ‘mubasyaroh’ dalam surat Al Baqarah ayat 187 adalah jima’ (hubungan intim).

Wanita Beritikaf

Advertisement. Scroll to continue reading.

Tidak hanya kaum pria saja, wanita pun juga diperbolehkan untuk beritikaf. Hal ini terlihat dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mengizinkan istri beliau untuk beritikaf.

‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam biasa beritikaf pada bulan Ramadhan. Apabila selesai dari shalat shubuh, beliau masuk ke tempat khusus itikaf beliau. Dia (Yahya bin Sa’id) berkata: Kemudian ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha meminta izin untuk bisa beritikaf bersama beliau, maka beliau mengizinkannya,” (HR. Bukhari).

Dari ‘Aisyah, ia berkata “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beritikaf pada sepuluh hari yang akhir dari Ramadhan hingga wafatnya kemudian isteri-isteri beliau pun beritikaf setelah kepergian beliau,” (HR. Bukhari dan Muslim).

Namun, tetap ada syarat yang harus dipenuhi oleh wanita jika ingin beritikaf di masjid, yaitu: Meminta izin suami dan tidak menimbulkan fitnah (godaan bagi laki-laki) sehingga wanita yang itikaf harus benar-benar menutup aurat dengan sempurna dan tidak memakai wewangian. (Ald/Red).

Advertisement. Scroll to continue reading.

Berita Yang Mungkin Anda Sukai

Advertisement